Tahun 2050 Jakarta Terancam Tenggelam

Amblasnya jalan RE Martadinata sepanjang 103 meter, Jakarta Utara merupakan peringatan bagi pemda Jakarta. Bahkan, para pakar dan aktivis lingkungan sudah mengingatkan ancaman lebih besar terhadap Jakarta, khususnya Jakarta Utara.

“Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) sudah memperingatkan Jakarta akan tenggelam jika Pemda Jakarta tidak peduli dengan pembangunan yang mengabaikan lingkungan,” ujar Selamet Daroyni, direktur Keadilan untuk Perkotaan Institut Hijau Indonesia di Jakarta, 19 September 2010.

Peringatan itu disampaikan kepada Pemda DKI Jakarta sejak awal 2008. Isinya: Sebagian besar Kota Jakarta diprediksi akan tenggelam atau ditelan laut pada 2050. Penyebabnya, permukaan tanah terus menurun, banjir rob atau air laut pasang kerap menerjang, banjir kiriman rutin datang, proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut, serta arus laut yang bersifat merusak (abrasi).


“Kami perkirakan sebagian Jakarta mulai tenggelam pada 2030,” kata Selamet. Perkiraan ini bisa terjadi bila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak segera mengantisipasi. Apalagi, hampir 50 persen wilayah Jakarta sangat rawan amblas, khususnya Jakarta Utara.

Amblasnya Jalan RE Martadinata, menurut dia, adalah salah satu pertanda buruk. Tanda buruk lainnya yang sudah pernah terjadi adalah banjir rob besar yang menenggelamkan jalan tol Bandara Soekarno-Hatta pada 2008, jebolnya Situ Gintung setahun kemudian, dan tahun ini banyaknya tanggul jebol. Itu termasuk jebolnya tanggul penahan air sepanjang 115 meter di bantaran saluran Kanal Barat yang terletak di jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan beberapa hari lalu.

Menurut Direktur Wilayah II Binamarga, Winarno, amblesnya jalan Martadinata kemungkinan terjadi lantaran tiang pancang yang menjadi pondasi berada di tanah dengan kontur lunak sehingga mudah bergeser. Apalagi, ada pengerukan di laut yang menimbulkan abrasi sehingga jalan anjlok. “Selama ini jalan hanya ditinggikan,” kata dia.

Jika mencermati kembali sejarah dari berita-berita tahun sebelumnya, jalan Martadinata yang terletak di pinggiran Jakarta Utara memang tergolong sangat rawan. Jalan ini selalu menjadi langganan banjir saat hujan menerjang Jakarta. Jalan ini juga rutin tergenang ketika banjir rob menghantam dari laut Jawa. Karena itu, setiap awal tahun, saat musim hujan dan musim rob, jalan Martadinata sudah langganan rusak dan berlubang.

Ironisnya, dari pantauan Walhi DKI Jakarta, bukan hanya jalan RE Martadinata yang terancam ambrol, dan sekarang sudah terbukti terjadi. Namun, masih ada deretan wilayah lain yang terancam ambrol, seperti Tanjung Priok, Pademangan, Ancol, Kp. Bandan, Jalan Lodan, dan Pasar Ikan Penjaringan di Jakarta Utara.

Itu di Jakarta Utara. Sedangkan, di Jakarta Pusat wilayah yang terancam ambles ada di Jalan Pangeran Jayakarta, Sawah Besar, dan sepanjang jalan protokol Jenderal Sudirman-MH Thamrin. Di Jakarta Timur yakni di Kawasan Industri Pulogadung dan Jalan Raya Bogor. Sedangkan, di Jakarta Barat terletak di Jalan Daan Mogot, Cengkareng, dan Kamal Muara.

“Ini harus segera diantisipasi jika tak ingin Jakarta ambruk total,” katanya Direktur Walhi Jakarta, Ubaidillah.

Selamet dan Ubaidillah mengingatkan ada beberapa indikator mengapa Kota Jakarta terancam tenggelam 40 tahun ke depan. Pertama, dari curah hujan sebesar 1,2 miliar meter kubik setiap tahun yang terserap tanah hanya 26 persen, sisanya langsung ke laut. Kedua, rusaknya kawasan penyangga di Selatan Jakarta, seperti Depok, Tanggerang dan Bogor. Ketiga, terbengkalainya situ-situ dan danau yang saat ini berjumlah sekitar 200-an sehingga menyebabkan terjadinya banjir kiriman.

“Pada 2003-2004, ketinggian banjir di Jakarta hanya 5-10 cm, tapi enam tahun terakhir sudah mencapai 70 cm,” tutur Selamet.
Keduanya menekankan pemerintah pusat mapun DKI Jakarta, perlu mempedulikan kaidah-kaidah lingkungan, tipologi lingkungan, dan teknologi yang mengedepankan lingkungan dalam pembangunan infrastruktur.
“Penggunaan air tanah yang berlebih telah berdampak buruk pada kondisi tanah, begitupun dengan pembangunan pusat belanja tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologis,” kata Ubaidillah.
Sedangkan, anggota Komisi V DPR RI asal Lampung KH Abdul Hakim menekankan perlunya Indonesia menggunakan teknologi anti banjir, seperti di Belanda. “Jika memungkinkan untuk mengantisipasi hal tersebut dengan water dam (bendungan air), kenapa tidak.”

Satu Tanggapan to “Tahun 2050 Jakarta Terancam Tenggelam”

  1. wuih bener2 ngeri ngebayanginnya.. udah makin parah berarti di Jakarta..
    meski saya gak tinggal di Jakarta tapi turut prihatin juga jika itu terjadi.. semoga ada penanggulangan yang bisa mengantisipasi agar jangan sampai tenggelam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: